Survived 2016.

2 more days to year end.

2016 isn’t best year, too much for this year. War, death, separation, fear, losing, broken heart, heart aches. Therefore a few of marriage & relationship started.

Rather complaining, why don’t we just take a moment, give ourself silence a bit from the crowded world, count the blessing and grateful.

If you have a chance, do the calculation & graph, are we moving up so far? If it yes, then we are on the good track and everything is worth it. If it’s not, time to revisit the plan.

This morning I generated my “best of 2016 on Instagram”, turns out the highlight was runs and going places . Meaning I still have the most precious thing in this life: health. I couldn’t thank enough for that. Alhamdulillah.

We survived 2016. I get the feeling we will have brighter 2017, it just around the corner. Let’s cherish with love, laughter and happy heart. Keep healthy & happy, everyone.

Whenever you feeling lucky, your Mom’s pray answered.

 

New (office) Life.

I write this at 8.29 pm, at the lobby of the new office, while waiting the agency doing the offline cut revision.

So yes, this is my first day at new office which is the 8th office during my carreer lifetime.

This time I get the same role as I spent my longest years on 2nd & 6th -that took massive 9 years from 15 years of my service.

So wish me luck. 

39.

Umur 39. Mau cari apa lagi? Kapan menikah?
Siapa yang nggak mau? Namun belum di pertemukan dan belum sampai rejeki yang satu ini. Trust me, none in the world wants to live alone.

“Kamu sih kurang berusaha, nggak membuka hati”.
Please help yourself not to judge, you don’t know what I’ve been through. I just don’t share with you.

I prefer to counting the bless and be grateful.

  • New job
  • New apartment
  • Better and better health
  • Healthy parents, brothers & family
  • Luxury to slow down and take a proper break-properly, nggak derita tetap senang-senang.
  • Good friends
  • Ability & chance to travels

Most of all, GOD still allow me to breathing. Alhamdulillah ya ALLAH. Semoga saya dan kita semua semakin diberikan kepandaian untuk bersyukur atas rahmat-MU.

Bismillahirahmanirahim. 39 to be better and better.

3 Pesan Penting

3 rangkuman pesan dari seorang sahabat yang sudah menikah 9 tahun. Percakapan 8,5 jam, pindah 3 restoran, dirangkum mah ini doang ternyata. Ditulis buat diingat-ingat. Hahaha.

  1. Menikah itu seperti beli buah. Sudah di pilih-pilih kulit yang terbaik, dalemnya hanya bisa di duga, nggak bisa di intip duluan. Jadi pas sudah dibuka, nggak bisa di balikin lagi, satu-satunya jalan adalah deal with what you chose. Negosiasi, selain dengan pasangan, yang paling utama dengan diri sendiri.Pada poin ini, respect taking big role. Respect atas pilihan satu sama lain. Tambahkan dengan respect terhadap hal lain seperti pekerjaan, karir dan plus-plus lainnya.
  1. Kita harus tetap punya ekspektasi sama pasangan, tuntutlah sesuatu. Hal ini akan membuat satu sama lain punya drive untuk berkembang, baik secara personal maupun sebagai team. “Terimalah pasaganmu apa ada-nya” hanya berlaku pada fisik yang sudah di takdirkan Tuhan, tidak termasuk pada kesehatan, karena kesehatan harus diusahakan.
  2. Less logic and do not over thinking mengenai “Who’s The One.”

Thanks Captain Yos!

You don’t need luck, just be yourslef, less logic, more two way communication and soldier on.

Salah Tulis Nama.

Kata Pak Ustad, kalau berdoa itu harus spesifik, kalau bisa lengkap dengan angka, timeline, nama, lebih baik.

Jumlah gaji, ingin liburan ke tempat impian, nonton konser band kesayangan, target finish lari marathon, achieve KPI di pekerjaan – deskripsikan, tulis dan ucapkan. Ketika di tulis dan diucapkan, daftar harapan itu menjadi doa. Semakin spesifik doa, semakin determinasi tinggi, selain tangan Tuhan berbicara mungkin juga jadi guidance lebih cepat menuju tujuan. Sama lah seperti prinsip Google Map, semakin spesifik alamat, semakin cepat jalan yang di rekomendasikan. Beneran deh, bukannya riya, tapi ini terbukti sama saya di 10 tahun terakhir ini. Nggak semua, namun sebagian besar yang utama terjadi.

Makanya doa memohon jodoh di Jabal Rahmah, disarankan spesifik dengan nama plus se-bin-bin-nya. Udah di tulis lengkap loh, tapi, kok belum juga ya? Diingat-ingat lagi, nama dia yang ditulis adalah nama panggung instead of nama akte.

SALAH NAMA AJA DONG!  Okefain, yuk balik lagi ke Jabal Rahmah. Hahahaha….

 

 

Digital immigrant.

Bertahun-tahun terekspos & mengerjakan kebaruan-kebaruan teknologi, seperti perpindahan 2G ke 3G, Nokia symbian ke BlackBerry RIM, BlackBerry RIM ke Smartphone Android & IOS, 3G ke 4G LTE, Friendster ke Facebook ke Twitter ke Path, KCM ke Kompas.com, WAP ke APP, beli barang di toko ke beli barang online e-commerce, mengalami dan berperan aktif (sedap!) di booming social media dan rising of digital platform 2010-2015, saya jadi mikir: Masa depan adalah milik digital. Kreatif konten, media, device, aplikasi, sistem pembayaran, semuanya.

So a year ago, I decided to make a bold move. Join e-commerce. Diyakini, e-commerce adalah tempat dimana semua kebaruan-kebaruan digital di realisasikan. Bingung? Pasti. Pusing? op krooooossss. Excited? Yes.

1-4 bulan menjalani, belajar terminologi-terminologi baru milik generasi millennials, makin lieur sekaligus makin mengerti. Energi industri ini begitu besar, karena player-nya masih muda-muda, banyakan fresh graduate, tidak terkecuali para founders-nya. Walau seringkali suka pengen noyor anak-anak muda sotoy ini *curcol*, lnamun mereka milik masa depan, kita yang harus adaptasi ke ilmu-ilmu baru. Lalu memutuskan untuk “memanfaatkan” instead of kelindes energi mereka.

GMV. CPA. CTA. BR. QCPT. AOV. CLV. AB testing. etc etc etc. Kedengerannya pinter amat kan ya?
Yang mana singkatan-singkatan itu tidak lain dan tidak bukan adalah omset, revenue, average transaction/selling point.

It comes to the thinking, digital is not a new god. It’s only a euphoric celebration by new generation.

Kenapa? Karena pemain “tradisional media” masih banyak yang enggan dan malas belajar platform baru ini. Padahal ya, ilmu “tradisional” ini ilmu dasar. Cek aja pas mereka belajar marketing di sekolah, pasti masih belajar teori Steven Covey, Rhenald Kasali, dkk. Kalo ditanya siapa inspirasi mereka, mayoritas jawaban masih Steve Jobs.

Kenapa malas belajar? Karena requires details, baca data, meminimalkan asumsi, dan hasil kerja terukur.  Males kan kalau ketahuan media spending atau output kreatif terbukti nggak efektif.  Bisa selesai karir jadi marketer. Hahaha.

Karena itu, marketer imigran digital  dan marketer pendatang baru dari generasi milenial yang native digital, seakan-akan jadi sangat percaya diri & terdepan. Membuat para marketer senior makin enggan untuk migrasi. Ya abis, dengernya aja udah susah banget, gimana jalaninnya. Tambah males ah!

Hey senior marketer, jangan takut bermigrasi dan evolving to digital. Percaya deh, terminologi-terminologi itu kebanyakan hanya renaming, keuntungan digital platform malah akan membantu kita lebih detail secara KPI & ROI. Sudah saatnya kita sebagai marketer meminimalisir asumsi personal, baca dan percaya perilaku konsumen lewat data. Justru kesempatan kita, marketer millennials rata-rata belum belajar dan belum pernah implemen market sensing, sementara kita  marketer Gen Y mah jagonya. Plus jam terbang kita lebih banyak, jadi wisdom lebih banyak. Hihihi.

Apapun produk jualan kita, selama masih consumer product, range konsumen kita pasti menyentuh Gen X, Gen Y dan Millennials. Uang besar tetep ada di Gen Y, Sis. Justru kesempatan, millennials seringkali tidak mengerti consumer habit generasi kita. Jadi jelas , kalau kita evolving dan ikut celebrating digital trend, kita bakal lebih full rounded as marketer.

Ujungnya mah anak-anak generasi muda ini suka pada japri.
“Mbak, private session dong, ajarin cara mengerti konsumen, ajarin consumer decision journey”.

Manfaatkan dengan:
“Yuk, tapi kamu ajarin saya cara baca data”

Hahaha.  Win win solution toh?  Dedek-dedek dapet wisdom, Tante-Tante dapet ilmu.  

If you can’t change the direction, join the crowd and enjoy the dance floor. Never hurt to learn new thing, it’s only giving confident and save our future.

 

 

 

New chapter.

This is the second post at my new home and it might surprise you -my friends- to  letting you know that I decided to move on from the company I’ve been work with in past 10 months. Press release di blog, secara anak millennial kan. Hahaha.

Kenapa resign?

“Work load? gaji kurang?”
“E-Commerce kan salah satu source of growth dan industry kekinian?”
“Elo kan anaknya digital banget, e-commerce udah tempat yang paling pas buat lo”

Jadi begini, the more you get older, the more you know where your heart wants to go, so I keep wandering. Sama dengan hati, dia akan berlabuh di tempat yang tepat. *eaaaa eaaaa moment* hahahaha.

Kemana abis ini? Menikmati free time dulu sebentar boleh dong, 16 tahun bekerja nggak berhenti-henti, onderdil mulai berumur, perlu break. Hihihi.

Quoting statement from a good friend of mine about my next step:

To get better boyfriend, Let go of your old one dulu biar ada yang berani daftar.  And the stars are aligned, and they’re pointing to you.

Manis ya?