Digital immigrant.

Bertahun-tahun terekspos & mengerjakan kebaruan-kebaruan teknologi, seperti perpindahan 2G ke 3G, Nokia symbian ke BlackBerry RIM, BlackBerry RIM ke Smartphone Android & IOS, 3G ke 4G LTE, Friendster ke Facebook ke Twitter ke Path, KCM ke Kompas.com, WAP ke APP, beli barang di toko ke beli barang online e-commerce, mengalami dan berperan aktif (sedap!) di booming social media dan rising of digital platform 2010-2015, saya jadi mikir: Masa depan adalah milik digital. Kreatif konten, media, device, aplikasi, sistem pembayaran, semuanya.

So a year ago, I decided to make a bold move. Join e-commerce. Diyakini, e-commerce adalah tempat dimana semua kebaruan-kebaruan digital di realisasikan. Bingung? Pasti. Pusing? op krooooossss. Excited? Yes.

1-4 bulan menjalani, belajar terminologi-terminologi baru milik generasi millennials, makin lieur sekaligus makin mengerti. Energi industri ini begitu besar, karena player-nya masih muda-muda, banyakan fresh graduate, tidak terkecuali para founders-nya. Walau seringkali suka pengen noyor anak-anak muda sotoy ini *curcol*, lnamun mereka milik masa depan, kita yang harus adaptasi ke ilmu-ilmu baru. Lalu memutuskan untuk “memanfaatkan” instead of kelindes energi mereka.

GMV. CPA. CTA. BR. QCPT. AOV. CLV. AB testing. etc etc etc. Kedengerannya pinter amat kan ya?
Yang mana singkatan-singkatan itu tidak lain dan tidak bukan adalah omset, revenue, average transaction/selling point.

It comes to the thinking, digital is not a new god. It’s only a euphoric celebration by new generation.

Kenapa? Karena pemain “tradisional media” masih banyak yang enggan dan malas belajar platform baru ini. Padahal ya, ilmu “tradisional” ini ilmu dasar. Cek aja pas mereka belajar marketing di sekolah, pasti masih belajar teori Steven Covey, Rhenald Kasali, dkk. Kalo ditanya siapa inspirasi mereka, mayoritas jawaban masih Steve Jobs.

Kenapa malas belajar? Karena requires details, baca data, meminimalkan asumsi, dan hasil kerja terukur.  Males kan kalau ketahuan media spending atau output kreatif terbukti nggak efektif.  Bisa selesai karir jadi marketer. Hahaha.

Karena itu, marketer imigran digital  dan marketer pendatang baru dari generasi milenial yang native digital, seakan-akan jadi sangat percaya diri & terdepan. Membuat para marketer senior makin enggan untuk migrasi. Ya abis, dengernya aja udah susah banget, gimana jalaninnya. Tambah males ah!

Hey senior marketer, jangan takut bermigrasi dan evolving to digital. Percaya deh, terminologi-terminologi itu kebanyakan hanya renaming, keuntungan digital platform malah akan membantu kita lebih detail secara KPI & ROI. Sudah saatnya kita sebagai marketer meminimalisir asumsi personal, baca dan percaya perilaku konsumen lewat data. Justru kesempatan kita, marketer millennials rata-rata belum belajar dan belum pernah implemen market sensing, sementara kita  marketer Gen Y mah jagonya. Plus jam terbang kita lebih banyak, jadi wisdom lebih banyak. Hihihi.

Apapun produk jualan kita, selama masih consumer product, range konsumen kita pasti menyentuh Gen X, Gen Y dan Millennials. Uang besar tetep ada di Gen Y, Sis. Justru kesempatan, millennials seringkali tidak mengerti consumer habit generasi kita. Jadi jelas , kalau kita evolving dan ikut celebrating digital trend, kita bakal lebih full rounded as marketer.

Ujungnya mah anak-anak generasi muda ini suka pada japri.
“Mbak, private session dong, ajarin cara mengerti konsumen, ajarin consumer decision journey”.

Manfaatkan dengan:
“Yuk, tapi kamu ajarin saya cara baca data”

Hahaha.  Win win solution toh?  Dedek-dedek dapet wisdom, Tante-Tante dapet ilmu.  

If you can’t change the direction, join the crowd and enjoy the dance floor. Never hurt to learn new thing, it’s only giving confident and save our future.